...

Malam ini ditempatku sedang mendung. Tapi untuk hujan masih menunggu untuk sampai di sini. Bagaimana cuaca di sana?

Aku selalu bertanya-tanya apa kesukaanmu. Saat kamu memiliki waktu luang sepertiku saat ini, kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kau sepertiku, menyukai duduk sendiri di kamar? Aku juga sering memutar lagu-lagu lama untuk menemani diri yang sepi.
Saat ini aku memutar Sudah milik Ardhito. Bersama menunggu hujan yang tak kunjung mengguyur dan secangkir es teh yang aku minum saat ini, aku memikirkanmu.

Aku berpikir, masihkah kamu menungguku? Karena aku percaya, kita hanya tinggal menunggu waktu untuk bisa bertemu.

Aku percaya segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Aku juga percaya bahwa Allah telah menciptakanmu di suatu tempat. Meski saat ini Tuhan masih menyembunyikanmu dariku, aku akan dengan senang hati menunggu. Aku tahu kita sama-sama menunggu, meski belum pernah bertemu.

Apa kabarmu hari ini? Jika kamu lelah, berhentilah sejenak sebelum melanjutkan sesuatu yang sedang kamu kerjakan.

Jika kamu ada di sini, aku ingin menceritakan tentang pekerjaanku. Tidak ada yang spesial memang, sama seperti minggu lalu, aku kerja ke sawah, pulang kurang lebih pukul lima belas, dan mengerjakan laporan yang jenuh di antaranya. Tapi menceritakan ini kepadamu pastinya menyenangkan.


Bukankah jika bersama orang yang tepat, segalanya akan bermakna meski hanya duduk bersama tanpa kata-kata?

Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu? Apakah kesibukanmu membuatmu lelah?
Ada kalanya segala sesuatu yang kita kerjakan terasa salah, dan semakin di perbaiki justru semakin salah. Terkadang dunia tak mau jadi seperti yang kita inginkan.


Hai sayangku, dunia ini memang kejam. Tapi jika kamu lelah, berhentilah sejenak, sebelum melanjutkan.

Meski kita tak bisa saling menguatkan, setidaknya kita bisa memohon untuk segera dipertemukan. Doaku tak pernah putus memohon kepada-Nya.


Yang bisa kulakukan saat ini memang hanya sebatas mendoakan. Aku tak bisa menepuk pundakmu atau mengirimkan hadiah kecil untuk menghiburmu.

Namun yakinlah bahwa doaku lebih kuat dari semua itu.



Pada saatnya nanti, Allah akan menghapuskan jarak ini. Hingga kita akan bersama, tak hanya dalam doa, tapi juga dalam cinta.

Jika waktumu sedang luang, coba bayangkan pertemuan kita kelak. Bagiku, membayangkannya saja sudah bisa membuat hatiku berdegup kencang.


Salam Rindu untuk kamu yang menungguku, meski kita belum pernah bertemu.
 

Sesekali aku seperti melihatmu dalam diri orang yang kutemui di jalan. Ada kalanya aku iseng ingin bertanya pada mereka: kamukah itu? Tapi nyaliku tak cukup besar untuk melakukannya. Pada akhirnya, aku hanya duduk di sini sendiri dan membayangkan pertemuan kita kelak.

Jika saja kita bisa memesan takdir Allah, tentu aku ingin dibuatkan sebuah skenario yang terbaik untuk kita berdua.
Tapi kuharap kita tidak perlu mengalami hal setragis oranglain yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari perasaan mereka.


Menunggumu tidak selalu mudah. Namun aku tahu, tak boleh ada kata menyerah meski terkadang aku lelah.


Barangkali di saat yang sama, di tempat yang berbeda, kamu juga mengalami yang sama. Tenang-tenanglah, Bersabarlah dahulu. Yakinlah bahwa Allah tahu segalanya dan pasti punya rencana.


Untuk saat ini mari kita bahagia dengan cara sendiri-sendiri. Tapi nantinya, kita pasti merengkuh kebahagiaan bersama.

Selagi kita belum bertemu, kejarlah mimpimu dahulu. Biar aku juga mengejar mimpiku. Aku mengerti hidup bukan hanya soal percintaan.

Masih banyak hal lain yang harus kita pikirkan. Mungkin saat ini mimpi-mimpi kita lebih penting untuk dikejar. Mari kita berbahagia dengan cara kita sendiri-sendiri. Tapi ingatlah satu hal, bahwa kita sudah disatukan bahkan sebelum pertemuan. Jadi tak perlu khawatir kamu akan sendirian. Karena aku ada di sini, menunggumu entah sampai kapan.


Jalan kita memang panjang dan terjal. Tapi bahkan jika kita harus berputar, yakinlah aku dan kamu pasti akan bertemu pada suatu pemberhentian.


Barangkali kamu bertanya-tanya mengapa kisah kita tak semudah kisah di layar kaca. Mengapa aku dan kamu tak dibuat mudah saja dengan bertemu di sebuah jalan kecil? Atau barangkali, kamu membayangkan kita bertemu saat kita sama-sama menunggu kereta setelah pulang liburan? Pada saat itu kamu bawa segelas kopi yang kamu beli di stasiun. Karena kurang waspada, aku menabrakmu dan membuat kopi itu menumpahi kemeja putihmu. Kubilang ‘maaf’, dan kamu jawab ‘tak apa’. Lalu kita mulai bertukar cerita, sampai suatu saat memutuskan untuk bersama.

Cukup mudah bukan? Sudah banyak terjadi di dunia ini dan sudah pula diabadikan di berbagai kisah televisi. Tapi mengapa kita tak mengalami apa yang mungkin dialami jutaan orang didunia itu?

Jangan berkecil hati.
Aku dan kamu mungkin harus pergi lebih jauh dari stasiun kereta untuk bisa bertemu.

Suatu saat nanti, kita akan duduk bersama di sini, memesan kopi hangat dan mendengarkan lagu-lagu lama.


Saat ini mungkin aku dan kamu hanya bisa menatap iri pada orang-orang. Sambil hati kecil kita berbisik memohon kepada Allah agar segera dipertemukan. Suatu saat nanti kita bisa melakukan apa yang orang-orang lakukan. Kita bisa duduk bersama sambil minum kopi. Kita juga bisa menghabiskan malam yang panjang.



Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kapan, kita pasti akan dipertemukan.
Karena tak semua rindu, bisa segera berujung temu.


- Afifa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

teruntukmu calon imamku tersayang.

untukmu calon imamku, semoga kau membacanya.

Passed