Ketidaksengajaan aku menemukanmu
Untuk waktu yg singkat, kita belajar saling mengenal.
Aku menghafalkan senyummu yg selalu terulas dengan ringan, langkah kakimu yg khas dan tenang, hangat jarimu saat kita saling bergandengan tangan.
Kebiasaan-kebiasaan kecilmu mulai aku adopsi.
Tanpa sadar, kebiasaan-kebiasaanku juga menjadi bagian dari dirimu.
Kita mulai terbiasa bersama, menghadapi waktu berdua.
Aku selalu tersenyum geli jika mendengarmu mengakui kalau aku ini lebih penting dari segalanya yg ada dihidupmu.
Dipikiranmu yg selalu mengkhawatirkan aku mencari laki-laki lain, padahal kehadiranmulah yg menggenapiku, melengkapiku hingga aku menjadi sesuatu yg baru bersamamu.
Terima kasih, karena kamu telah mau bersabar dengan gadis biasa ini.
Kita memang tak selalu sejalan, ada saja saat dimana kita ingin saling mengalahkan.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan kita memang tak lepas dari silang pikir dan kata.
Jalanan yg kita lalui memang tak semulus jalan tol, kita pernah menemukan krikil tajam serta jalanan berliku.
Namun semuanya sanggup kita hadapi bersama, meski kadang tertatih dan dengan satu-dua napas kelelahan.
Aku masih ingat kala kita memang sedang tidak bisa berpikir jernih dan membuat suasana mengeruh.
Ketika aku dan kamu memang sedang tidak bisa berkompromi dan bekerjasama.
Bahkan, kita pernah juga terbelit tali cemburu yg membuat kita buta sementara.
Membuat kita sejenak lupa bahwa ada cinta yg dalam di sana, yg ada hanyalah kebencian dan api amarah yg siap melumat habis kita berdua.
Kamu membentak, aku meradang.
Aku menangis, kamu terdiam. Saking kerasnya kepala, kamu pernah memutuskan untuk pergi ke tempat yg jaraknya 2 jam dari rumahmu. Demi meredam kata-kata beraroma kebencian yg akan terlontarkan.
Demi menjaga supaya hati masing-masing tetap utuh bentuknya.
Konyolnya, setiap selesai pertengkaran, kita sadar bahwa kita sebenarnya saling menggenapkan.
Kita selalu menunggu hingga semuanya tenang, hingga pundi-pundi rindu kian menumpuk dan makin menggelembung jumlahnya. Mendinginkan dua kepala demi kebaikan berdua.
Saat itulah kita baru akan kembali bersua. Menyusun kembali jalinan yg sempat koyak bentuknya.
Tiap kali pertikaian kita usai, kau dan aku akan saling menyadari bahwa kita sebenarnya saling mengisi.
Bagaimana bisa aku lama-lama tak memandangmu atau tak mendengar derai tawamu?
Hati ini selalu gusar luar biasa.
Ya, hatiku memang tak lagi milikku sepenuhnya, ada namamu juga tertera di sana.
Wajar jika kemudian dia akan meraung tanda protes, meminta kehadiranmu secepatnya.
Ah, konyol memang.
Mengingat lagi bagaimana ketika kemarin kita saling berselisih.
Namun, di hari lusa kita sudah saling berbagi tawa karena tak betah lama-lama saling menyimpan marah.
Mas..
Di saat-saat yg paling sulitpun aku akan tetap setia di sini, tak pernah sejengkalpun mundur atau mencari tambatan lainnya.
Kau tak pernah mundur ketika aku dan segala tingkah ajaibku menuntut pengertian dengan kadar yg lebih dari biasanya.
Kau tak mencoba mencari gadis yg lebih sempurna yg tentu saja ada banyak jumlahnya di luaran sana.
Kau memilihku, memilih merenda hubungan dengan gadis yg sangat biasa, gadis yg berdiri di depan kameramu lalu marah hanya karena foto yg diinginkannya tidak sesuai.
Mas, terimakasih sudah mau setia bersamaku hingga sekarang aku menjadi makin mendewasa.
Setia memahamiku dengan segala tingkah polahku.
Terimakasih kau selalu ada dan sudah mempercayakan hatimu kepadaku.
Tak pernah terlintas di kepalaku bahwa kita bisa bersama.
Masih tak percaya ketika perahu yg kita dayung ternyata bisa berlayar.
Walaupun sesekali terhantam badai, kita masih utuh dengan layar yg menjulang yg siap menantang badai yg kapan saja akan kembali datang.
Melalui hubungan kita, aku mendewasa.
Aku menemukan rumahku pulang.
Walaupun tentu umur hubungan kita belum lama, yg tidak boleh membuat kita bersenang ria.
Kita harus kerap mengucap doa, semoga kita memang ditakdirkan bersama.
Sekali lagi ku ucapkan padamu,
Terima kasih telah memilihku.
Semoga masa depan menyediakan untuk kita satu tempat bersama.
-Afifa
Komentar
Posting Komentar